Tarwiyah, Arafah, dan Nahr

Oleh: Dr. Mohammad Nasih (Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Guru Utama di Rumah Perkaderan Monash Institute)

Para rasul dan nabi merupakan orang-orang pilihan Allah, karena mereka telah melakukan berbagai tindakan yang luar biasa demi menunjukkan cinta yang sangat besar dan paripurna kepada Allah. Termasuk di antara yang melakukan itu adalah Nabi Ibrahim dan puteranya. Nabi Ibrahim rela mengorbankan miliknya yang paling berharga, termasuk puteranya. Dan demikian pula puteranya itu bahkan merelakan jiwanya sendiri, demi untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah.

Sebelum itu, karena ketakwaan kepada Allah, Nabi Ibrahim pernah mengorbankan 1000 ekor kambing, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Karena sikapnya itu, tidak hanya penduduk bumi yang terkagum-kagum, tetapi juga penduduk langit. Mendapat pujian banyak pihak, Nabi Ibrahim pun mengeluarkan pernyataan bahwa korban yang dilakukannya itu sesungguhnya belumlah apa-apa. Bahkan seandainya ia memiliki anak lelaki dan Allah menginginkan agar mengorbankannya, maka ia akan melakukannya.

Nadzar tersebut disebabkan Nabi Ibrahim sudah sangat lama beristri, tetapi belum mendapatkan putera. Dengan tanpa kenal putus asa, Nabi Ibrahim berdo’a. Dan baru pada usianya yang sudah sangat lanjut, Allah memberikan seorang putera dari istri keduanya, Hajar. Putera yang sudah lama dinanti-nantikan tersebut menjadi kebahagiaan yang sangat besar bagi Nabi Ibrahim. Kepada puteranya tersebut, Nabi Ibrahim bisa berharap perjuangan Nabi Ibrahim akan dilanjutkan.

Ketika putera yang dicintai tersebut menginjak usia-sanggup, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa beliau menyembelih puteranya yang sudah puluhan tahun ia nantikan itu. Setelah mimpi yang pertama, Nabi Ibrahim berpikir apakah itu hanya mimpi biasa, ataukah mimpi yang merupakan wahyu Allah Swt.. Karena itulah, hari setelah malam yang di dalamnya beliau bermimpi itu disebut hari tarwiyah (berasal dari kata rawwâ-yurawwî, berarti berpikir-pikir dan merenungkan). Pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim mengalami mimpi yang sama. Setelah mimpi kedua itu, Nabi Ibrahim menjadi yakin dan tahu (‘arafa) bahwa mimpinya itu benar-benar merupakan wahyu dari Allah Swt.. Karena itulah, hari setelah Nabi Ibrahim bermimpi, disebut dengan hari ‘arafah. Pada malam berikutnya, beliau mengalami mimpi yang sama yang membuatnya merasa harus menyegerakan perintah di dalamnya, yang merupakan nadzar yang pernah diucapkannya.

Agar pelaksanaan perintah Allah berjalan dengan baik, Nabi Ibrahim mengajak puteranya berbicara dan meminta pandangannya tentang perintah tersebut. Karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah, puteranya yang oleh al-Quran disebut al-halim (penyantun) itu, sama sekali tidak menolak apa yang dikatakan oleh ayahnya. Bahkan meminta kepada ayahnya untuk  segera melaksanakannya dan menegaskan kepada ayahnya bahwa ia akan mendapatinya tergolong orang-orang yang sabar. Kedua ayah dan anak yang menjadi nabi dan rasul tersebut lulus ujian dengan benar-benar menjalankan perintah penyembelihan. Karena itulah, 10 Dzulhijjah disebut sebagai hari penyembelihan (yawm al-nahr). Wallahu a’lam bi al-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *