Pendiri

Dr. Mohammad Nasih

Lahir di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, pada 1 April 1979. Menjalani masa belia di kampung halaman sampai menamatkan sekolah menengah pertama (MTs) swasta di Desa Pomahan, Kecamatan Sulang. Sejak kelas 6 MI di desanya, Nasih juga bersekolah diniyah yang masuk sore hari mulai jam 14.00-17.00. Namun, ia telah belajar baca tulis Arab sejak kecil dari kedua orang tuanya. H. Mohammad Mudzakkir dan Hj. Chudzaifah Hafidhah yang adalah penghafal-penghafal al-Qur’an (hafidh dan hafidhah). Dan walaupun belum begitu serius, sejak usia 10 tahun telah berkenalan dengan kitab-kitab nahwu dan sharfyang merupakan dasar-dasar untuk dapat membaca kitab kuning dari ayahnya.

Setamat sekolah menengah, Nasih meninggalkan kampung halaman dan nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah An-Nur Lasem dan melanjutkan pendidikan formal di MAN Lasem. Namun, baru beberapa bulan di pesantren, ayahnya meninggal dunia. Spirit dari ayahnya yang tertanam kuat mendorongnya untuk menghafalkan al-Qur’an melanjutkan hafalan yang sebelumnya telah ia lakukan namun kemudian sempat terhenti. Dalam waktu kira-kira setahun setengah atau pada saat masih kelas II MAN, Nasih telah menyelesaikan hafalan 30 juz al-Qur’an. Walaupun An-Nur adalah Pondok Pesantren yang tidak menerapkan berbagai aturan ketat, tapi Nasih menerapkan kedisplinan tinggi pada dirinya sendiri. Suasana batin yang dipengaruhui oleh ayahnya, keseriusan, dan kedisiplinan tinggi telah mengantarkan kepada capaian yang signifikan dan menjadi modal bagi pengembaraan intelektual ketika kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Fisika Unnes dan Jurusan Tafsir Hadits IAIN Semarang.

Di Unnes, Nasih berkenalan dengan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi kemahasiswaan Islam tertua dan terbesar di Indonesia inilah, Nasih menjalani proses tempaan intelektual dengan mengikuti berbagai macam pelatihan, mulai pelatihan dasar LK I (basic training), LK II (intermediate training), sampai SC (Senior Course) untuk menjadi instruktur atau pemandu. Selama menjadi instruktur HMI, Nasih dikenal sebagai pemateri Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), semacam doktrin perjuangan HMI yang disusun oleh Nurcholish Madjid, dkk.  Komitmen menjadi instruktur HMI inilah yang membuat pergolakan intelektualnya menjadi semakin dinamis, karena bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa baru dari berbagai jurusan di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Semarang. Itulah pula yang membuat perjalanan karir dalam struktur HMI terbilang cukup baik. Setelah menjadi Sekretaris Umum HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin (1998-1999), ia terpilih sebagai Ketua Umum (1999-2000). Lalu menjadi Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Korkom IAIN Semarang (2000-2001) dan Ketua HMI Cabang Semarang (2001-2002).

Pada semester VI, Nasih telah menyelesaikan seluruh mata kuliah di IAIN dan tinggal menyelesaikan KKN dan ujian skripsi yang sudah siap uji. Tapi karena terlibat dalam demonstrasi membongkar korupsi di salah satu UKM penerbitan fakultas, Nasih dijatuhi hukuman skorsing selama 4 bulan oleh dekan. Dan karena melawan kebijakan dekan dengan menggugat ke PTUN, masa skorsing itu menjadi semakin lama, karena selama masa persidangan di pengadilan yang memakan waktu lama, Nasih tidak diberi hak pelayanan pendidikan. Setelah pejabat kampus berganti, Nasih baru dapat melanjutkan proses pendidikan. Setelah bernegosiasi untuk diuji langsung oleh rektor, Prof. Dr. Abdul Djamil, ia menjalani ujian akhir dengan skripsi berjudul “Evolusi Konsep Tuhan dalam al-Qur’an; Analisis Semantik terhadap Kata Ilah dan Rabb dalam al-Qur’an” dan dinyatakan lulus dengan IPK tertinggi (3,9) dalam wisuda IAIN tahun 2003. Namun, ia tidak diberi predikat sebagai lulusan terbaik. Ia dianggap sebagai cacat moral, karena telah melakukan “kerusuhan” di kampus.

Setelah wisuda, Nasih langsung mendaftarkan diri di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI. Dan setelah positif diterima, Nasih hijrah ke Jakarta, tapi tidak hanya untuk melanjutkan studi, melainkan juga melanjutkan karir di HMI sebagai Pengurus Besar HMI (2004-2005). Pada akhir tahun 2005, Nasih menyelesaikan studi S2 dengan menulis tesis berjudul “Evolusi Gagasan Politik Muhammadiyah: Dari Negara-Islam ke Negara-Bangsa”.

Pada awal tahun 2006, dalam Pernas Masika ICMI di Hotel Millenium, Jakarta, Nasih terpilih sebagai Presidium Pengurus Pusat MASIKA ICMI (2006-2011). Dan dalam Muktamar Gerakan Pemuda Islam (GPI) di Kota Bengkulu terpilih sebagai salah satu formatur Pimpinan Pusat GPI dan kemudian menjadi Ketua Bidang Politik (2006-2010). Pasca Muktamar PP GPI di Lembang, Bandung, ia mendapat amanat sebagai Dewan Syuro PP GPI.

Semangat perjuangan dalam pendidikan terus berkobar dalam jiwa pemuda kampung ini. Karena itu, setelah lulus S2 ia langsung mendaftarkan diri (2006) ke jenjang S3 di Progran Studi yang sama untuk mendalami politik Islam dan dinyatakan lulus pada tahun 2010 dengan mempertahankan disertasi berjudul “Dinamika Antara Islam dan Nasionalisme di Turki dan Indonesia (1985-2010)” di bawah bimbingan Prof. Dr. Burhan D. Magenda, Prof. Dr. Ahmad Suhelmi, dan Chusnul Mar’iyah, Ph.D.. Penguji ahli dalam promosi doktornya adalah Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta yang juga merupakan salah satu senior HMI yang terkemuka. Setahun sebelum menyelesaikan program doktornya, ia menikah dengan seorang dokter calon spesialis anak di Fakultas Kedokteran Undip yang adalah puteri dosennya sendiri ketika kuliah di IAIN Semarang. Putri sulung sang dosen itu terbilang sebagai yuniornya di HMI Komisariat FK Undip dan menjadi salah satu peserta LK I yang ia pandu.

Sejak masih menjadi mahasiswa Program S3, Nasih mendedikasikan diri mengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ Jakarta. Dan kegiatan mengajar itu menjadi semakin intensif setelah menyelesaikan pendidikan tertingginya. Semuanya itu berjalan linear dengan semangatnya berorganisasi, sehingga pasca Muktamar ICMI di Bogor (2011) ia masuk dalam jajaran pengurus inti Dewan Pakar ICMI Pusat (2011-2016). Dedikasi mengajar kaum muda semakin bergelora, karena tantangan situasi dan kondisi masyarakat dan negara yang kian mengkhawatirkan. Karena itu, ia mendirikan beberapa lembaga nirlabawa, di antaranya Pesantren Mahasiswa Pemuda Islam (PMPI) dan Monash Institute: untuk Pembangunan Karakter Kepemimpinan Bangsa di Semarang. Lembaga-lembaga tersebut dibiayainya dari zakat pribadi ditambah dengan sumbangan insidentil dari beberapa teman yang bersimpati kepada upayanya untuk menciptakan perbaikan dan sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Lembaga-lembaga tersebut telah melahirkan penulis-penulis muda yang menghiasi berbagai koran, baik lokal maupun nasional. Di samping itu, bersama Chusnul Mar’iyah, Ph.D., menjadi pengisi program Belajar Islam di TV MNC Muslim (channel 97) dengan tema-tema sosial, ekonomi, dan pendidikan yang ditayangkan tiap Senin pukul 20.00 WIB.